Blogger, Sebuah Lokomotif Perubahan Sosial

Mari kita turun tangan, daripada kita lipat tangan sambil mengecam.
- Anies Baswedan

Pada masa kini telah terjadi pergeseran makna blogger dan blog itu sendiri, dari yang pada awalnya sekadar sebagai sarana curhat dan bersosialita, kini telah menjadi sebuah corong pergerakan. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya gerakan sosial yang telah dilakukan oleh blogger, mulai itu yang bersifat individu ataupun berkelompok, yang tentu nyata dalam aksi dan kontribusi. Sebut saja gerakan Seribu Buku dan Bloggers for Bangsari yang digagas oleh komunitas blogger BHI, gerakan Coin a Chance yang dicetuskan oleh duo Hanny dan Nia, atau juga jejaring Blood for Life yang digagas oleh Silly, yang mungkin hingga sekarang tidak terhitung lagi telah berapa banyak jiwa yang diselamatkan berkat gerakan ini.

Hari ini, Sabtu 3 Desember 2011, acara On|Off menghadirkan banyak blogger-blogger potensial serta menyajikan banyak model gerakan sosial yang menginspirasi, salah satunya yang sejak dulu begitu menginspirasi saya dan kini beruntung menjadi satu sesi tersendiri dalam acara On|Off ini adalah gerakan Indonesia Mengajar. continue reading »

Sabtu, 3 Desember 11  Leave a comment

Jodoh

Jadi jomblo itu tidak perlu malu, tapi perlu usaha.

Sudah sekian banyak teman yang bilang demikian pada saya, mengompori agar lekas cari pacar, atau mungkin lebih tepat sedikit mengejek sih. Tentu saya tidak pernah marah ketika mereka tanya apa kesendirian selama sembilan belas tahun itu bikin lelah. Pada dasarnya mereka teman yang baik, begitu perhatian. Sayang saran agar saya segera berpacar tidak disertai solusi yang jitu.

Kenapa Juga Saya Masih Betah Menjomblo? continue reading »

Senin, 7 November 11  4 Comments

Jogja

Bagi banyak orang Jogja adalah romantisme, begitu juga buat saya. Setiap jengkal jalan di Jogja yang hirukpikuk, juga tetes hujan yang gagal melesap lewat aspal punya cerita dan kenangannya masing-masing. Berbeda dengan Jakarta dan Surabaya yang orang-orangnya saling bersicepat, Jogja menawarkan keramahan dan kekecilan ruang sehingga manusianya intim dan tidak saling membalap untuk menjatuhkan. continue reading »

Selasa, 1 November 11  2 Comments

Kemana Perginya Kata?

Saya tersesat dan sering lupa dalam belantara kata. Dunia penuh alfabet telah lama membuat saya jemu dan mentok, tapi biar bagaimanapun dunia penuh alfabet ini, blog, telah mengantarkan saya kepada dunia baru yang makhluk-makhluknya sangat menggembirakan dan cerah memberi pelajaran bahwa tidak setiap kebaikan diabaikan, begitu juga dengan kejahatan.

Dalam rimba kata-kata saya menemukan cinta, cinta yang jauh dari gelora yang berkobar dan hasrat yang menggebu. Cinta yang saya temukan adalah cinta yang lembut mengalir dan penuh keasyikan dalam mengamatinya, menjadikan cinta itu sebagai wahana tamasya rohani, sensasinya begitu menenangkan. Cinta pada rimba aksara ibarat sebuah kotak ajaib, kita tidak bisa seketika tahu apa yang ada di dalamnya dan di mana dasarnya. Jalani sajalah.

Di bawah naungan mendung kata-kata bergabung dan membingkai makna, menjadi idaman penulis yang nyaris mati, tersudut kebuntuan. Saya juga sering menemukan habis jalan dan kemudian menyerah kembali meninggalkan, setelah sembuh kembali saya berjalan mencari kata. Momen yang paling menggembirakan mungkin ketika kita dibawa hanyut atau tersesat dalam samudera dan labirin kata tetapi kita bisa menemukan sebuah pulau baru yang indah dan baru saat itu akal kita bisa menjamah.

Saya mencintai kata, tepat di bawa orang tua dan sejajar dengan “dia”, dan ketika kata-kata mulai terbang menghilang, pena dan papan ketik menangkap kembali lalu kemudian memeliharanya agar lestari dan dapat terus saya nikmati.

Sabtu, 29 Oktober 11  Leave a comment

Sepi

Dalam sampul ruang yang riuh selalu ada spasi sunyi yang menjadi anomali.

Saya berada di dalam lingkaran manusia yang berisik dan masih merasa sepi. Hilang selera untuk berbicara dan menganggap segala sesuatunya akan segera selesai begitu saja, saya hilang dalam semesta keramaian. Keramaian berupa rombongan pembentuk ruang yang sibuk sendiri, dan saya tentu mesti berpikir sejuta kali untuk kemudian mau mengerti, mengapa ruang ini begitu hebat dalam berkongsi dan menggiring opini, menyudutkan satu bagian dari populasi yang paling jauh, dan kemudian mendorongnya hingga jatuh. Bagian populasi yang paling sepi.

Saya sadar sepi itu indah, kita bisa berkompromi dengan senyum-senyum sinis dan memberi penghakiman hanya dalam hati. Saya juga mengakui sepi itu berisik, menciptakan gangguan yang surreal dan meminta untuk dijatuhkan dan tidak dianggap sekaligus. Saya tahu saya tidak bisa mempercayai sepi karena doktrinnya yang mengajarkan untuk curiga, sembunyi, dan anti-mengetahui.

Saya dan sepi sering memilih untuk berdamai dengan ramai, tapi selalu gagal ketika sadar bahwa kedamaian bukan sebuah pilihan. Ketika rombongan keramaian berkonspirasi jahat dan membicarakan saya di belakang, saya sadar dan mendengarkan, tapi lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, memendam kebencian.

Ah itu mungkin sekadar pendapat, saya mungkin bisu tanpa alasan dan justru sibuk mencari pembenaran dan gagasan supaya terlihat dan memperoleh perhatian. Atau mungkin kebisuan saya adalah simbol konfrontasi ketidaksetujuan dengan kenyamanan, semacam alergi keramaian, siapa tahu? Yang jelas ketika saya bisu dan diam dalam keriuhan, saat itulah saya disedot kesendirian, melayang dan terperangkap dalam kesepian. Tapi saya menikmati.

 

Kamis, 6 Oktober 11  Leave a comment

« older posts