Semalam tak sengaja terkutip banyak pernyataan dari jawaban juri kepada kontestannya di salah satu acara ajang pencarian wajah instan untuk remaja. Jawaban yang tidak sesuai terlontar dari satu dua peserta, naumn yang paling membuat saya ingin muntah adalah bagaimana cara mereka membual untuk mendapat popularitas. Mereka membual, tidak jujur, tidak sinkron dengan hati nurani dan perbuatan mereka sehari-hari dan hanya mencari bagaimana baiknya dan bagaimana menarik simpatinya, jawaban yang lekang oleh keadaan tertentu, yang terpasung kondisi memaksa.
Termenung oleh keadaan dan kenyataan tersebut rasanya saya menadari sesuatu, bahwa manusia dewasa secara fisik akan selalu menjilat keadaan agar dia bisa diuntungkan, baik dengan alasan logis yang tiada realisasinya ataupun dengan ucapan gula yang memikat. Subjektivitas amat kental, dengan dibumbui sedikit fakta ilmiah kadaluarsa dan objektiitas a la kadarnya. Mungkin termasuk saya di dalamnya.
Mengekang di dalamnya bilangan yang tidak pasti, yang mencermikan bagaimana sesungguhnya mereka, jenius karbitan, si pintar dadakan yang memiliki percabangan keyakinan. Sungguh, untung saja ini baru kontes abal-abal yang mengeset ilusi dan angan yang berlebihan, bukan pentas besar kerakyatan memilih perwakilan yang memilih penopang jalan negara. Namun kiranya tidak akan berbeda jauh janji-janji calon perwakilan, mereka bilang kalau partai mereka pembela wong cilik, tapi wong cilik mana yang pernah mereka bela? Mereka bilang kalau merea memihak kepentingan rakyat, tapi mengapa mereka menyetujui kenaikan harga bahan bakar yang membuat tetangga saya jadi setengah gila dan setelah harga minyak dunia turun tidak segera respek dengan segera juga mnurunkan harga bahan bakar.
Simpatik sejenak, dukungan sesaat, ada di balik dualisme pembicaraan mereka, yang membuat tergila-gila dan menarik penentang menjadi penenang agar menjadi pemenang.





