Kencan Dua Jam Itu Bernama Pesta
SAYA BIASA BERKENCAN TANPA BERDANDAN, HANYA DUDUK dan MAKAN
Petang malam Minggu kemarin terasa lembab namun panas, lengas. Kala itu saya berada di salah satu pusat perbelanjaan di selatan Jakarta, dengan kemeja kusut yang dipakai hampir seharian, tentu tanpa bau badan. SeorangĀ teman mengundang saya kencan, bertemu teman-teman di akhir pekan dalam sebuah gelaran, pesta ulangtahunnya yang ketujuhbelas.
Jujur saya bukanlah penghamba pesta dan segala yang ada di dalamnya, riuh. Apalagi saat itu mayoritas wanita, banyak yang berbicara, blitz kamera terus bercahaya menangkap satu dua gaya. Biar saya kurang nyaman namun toh saya tetap menikmati dua jam berlalu, sambil sesekali menyaru memesan minuman baru, menikmati setiap detak menuju acara puncak.
Ah iya, saya malah lupa kapan terakhir saya mengadakan pesta, seingat saya ketika berulang tahun yang ketujuh, seterusnya hanya dilakukan seremonial berupa potong tumpeng dan ucap doa.
Pesta memang sudah menjadi bagian dari sosialita ibukota, menunjukkan eksistensi dan strata, dari balita hingga manula semua mengenalnya. Contoh sederhana, lihat saja muda-mudi kini, sikap kemakinya di pesta bisa kita lihat dari fotonya di internet, via facebook misalnya (ya, ini salah satu kegemaran saya : mengamati foto) di mana untuk satu album foto pesta bisa berisi lebih dari seratus foto, sementara satu pesta tentu bisa lebih dari satu album. Kemlinthi. Berbeda dengan zaman ketika kamera konvensional masih mayoritas, gambar hanya ada di bagian inti acara.
Sebut saja saya kolot, ndesa, kampungan, atau apalah lagi. Saat “kencan” saya biasa hanya datang tanpa berdandan, duduk, dan makan, serta kerap alpa ketika sesi foto. Namun saya menikmati diri sebagai pengamat tentang apa-apa yang terjadi dan sesekali mengambil foto candid untuk konsumsi pribadi
. Kedua hal itu yang menjadikan pesta bagi saya menjadi sebuah kencan dengan teman lama yang bermakna.
Rabu, 17 Juni 09
5 responses to Kencan Dua Jam Itu Bernama Pesta
Salut saya sama Tongki. Pemuda masa kini yang tidak terlalu menyukai budaya hura-hura dalam pesta. Kesederhanaan memang penting, agar jiwa dan hati tetap utuh menjadi pribadi yang sederhana, mandiri dan peka dalam bersosialisasi.
Hehehe… bicara apa sih daku. Pokoknya, siiplah…!!
eh…lo belum traktir gw….
ayo kapan kita bersua di wetiga????
_____
minggu ini saya nggak bisa, uang saya habis buat beli kacamata, lagipula acara saya juga banyak, sibuk
tongki.
kemaren saya juga pergi ke pesta(untuk pertama kalinya
)
saya malah nggak pernah ngikut pesta je mas, maklum cah ndeso
_____
pesta itu semacam selametan atau kenduri kalo di desa, sama saja kok
tongki.
mmmm
_____
Ada apa li?
tongki.