Sekrup-sekrup Kecil
Hari itu Minggu, udara dalam gedung Kramat 106 terasa riuh namun tetap khidmat, masing-masing manusia di dalamnya bergejolak menumbuhkan riak-riak. Nasionalisme, demokrasi, dan kepanduan didengungkan, ilham-ilham kebangsaan terbang keluar mengisi sela-sela udara yang sesak oleh semangat. Manusia-manusia itu berangkat dari tempat yang berbeda, dari pulau satu dan pulau lainnya, membawa DNA dengan ciri khas dari etnis dan budayanya.
Sejenak sebelum reriuhan itu tamat, di sela-sela rombongan ide yang berseliweran, anak-anak adam itu diinfus dengan musik yang menggema jiwa, yang komposisinya mirip lagu Marseille, lagu Perancis. Gesekan biola lagu itu membuat hadirin terkesiap, diam, dan hormat. Ya, hanya gesekan biola tanpa syair dari penggubahnya, Wage Rudolf Supratman.
Pertemuan dikhatamkan dengan sorak serentak mengucap rumusan hasil rembuk, sebuah sumpah setia, sumpah pemuda.
28 Oktober 1928
Indonesia, rangkaian bangsa sejuta rasa ini dibangun dengan tonggak pemberontakan dengan banyak sekrup yang menjaganya tetap tegar. Sekrup-sekrup kecil itu adalah rakyat, rakyat yang bergerak dan anomali, yang siap bergerak tanpa komando, meringsek hingga ulu hati pertahanan lawan.
Jong-jong yang datang dari 8 penjuru mata angin di Indonesia adalah salah satu titisan sekrup itu, mereka adalah corong yang setiap teriakannya terpekik kata merdeka, dan setiap polahnya adalah pemberontakan melawan penindasan. Jong-jong itu ada di garis depan, melindungi sekrup-sekrup yang lebih kecil, benteng perlindungan rakyat jelata yang ibu-ibunya rela menjual giwang dan liontinnya demi peralatan perang, juga sebagai tameng anak-anak sekolah rakyat yang gotong-royong menyalurkan perbekalan perang. Jong-jong itu yang mendesak segera merdekanya Indonesia, mendesak agar batok kepala atau punggung suami-suami dari istri yang setia itu tidak memucratkan darah lagi, agar tidak lagi ditumbalkan kelak. Pemuda-pemuda itu bekerja di daerahnya masing-masing, Andalas, Borneo, Celebes, Ambon, dan sebagainya berusaha bersama mewujudkan mahligai bernama Indonesia.

Rasanya relevan bertanya di mana spirit para jong tadi saat ini, spirit bersatu di tengah multikultural, yang proaktif bukan reaktif, dan yang sigap mencari jalan keluar, bukan sibuk sendiri dengan argumen sirkular mencari siapa yang paling benar. Sumpah pemuda kini telah menjelma menjadi seremoni kering, atau lebih tragis lagi sudah punah.
Pemuda sekarang sudah layaknya diseret ke masa lampau, ke masa di mana perjuangan benar-benar perjuangan, bukan sebuah koar-koar di muka umum. Ya, kami sudah layak diingatkan tentang perbuatan remeh-temeh yang dahulu sama hormatnya dengan mengangkat senjata, sama-sama membela negara. Sekarang kami terbelenggu dengan ikatan “kekeluargaan”, bukan persatuan, kami terlalu disibukkan dengan tawuran dan membuat seleksi alam buatan, yang kuat berkoloni sesama yang kuat, sementara yang lemah terhempas dan tersungkur layaknya daging sapi kurban yang berceceran, terpisah dari kepalanya.
Kami butuh diajarkan kalau kami butuh merdeka, bukan dengan semangat Jawa, atau lebih kecil lagi, bukan dengan semangat Jakarta, Yogyakarta, atau Surabaya kami harus bergerak, tapi dengan semangat yang disebut Indonesia. Kami juga ingin masuk syurga, menjadi syuhada yang berperang demi negara. Sekali lagi dan untuk selamanya kami ingin bersatu di bawah panji Indonesia dengan atau tanpa selempang Sumatera, Jawa, dan sebagainya. Kami sadar biarpun sulit mengenyahkan logat namun kami harus tetap menyatukan rasa, kembali menjadi sekrup di sendi-sendi pembangunan, dan sekali lagi bersorak serentak :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Ya, sekali lagi….
_____
gambar diambil dari sini.
Kamis, 17 September 09
6 responses to Sekrup-sekrup Kecil
Untung ada pesta Blogger… pernah ingat cerita dulu pesta Blogger dibuat untuk mengenang sumpah pemuda…. wah asyik juga ya pencetusnya… tapi pas pesta blogger ga pernah dibacaain sumpah pemuda…. gimana klo kita usul bareng-bareng
kapan kita kopdar museum…..
_____
ayo-ayo
tongki.
manis sekali. wanna feel what a nationalism means …
_____
sepertinya tulisan Anda lebih bagus daripada punya saya
tongki.
Itulah, masalahnya pemuda-pemudi sekarang ada yang ndak menderita ada juga yang menderita. Yang menderita pun kebanyakan ndak karena dijajah, tapi faktor lain seperti ekonomi.
_____
sebenarnya baiknya bukan menderita, tapi sadar dengan sendirinya
tongki.
perjalanan ke museum sudah jarang dilakukan oleh generasi muda endonesya. tulisan ini memicu semangat untuk kembali mengunjungi peninggalan sejarah. thanks!
_____
padahal harga tiket masuk museum itu nggak mahal lho…
tongki.
ayuk ayuk.. kapan ke museum Sumpah Pemuda? :p
_____
lho ya ayo, Mas kapan bisanya? *nyiapin sangu*
tongki.