Pesan Pendek

Riang tiada terperi saat melihat layar monokrom ponselku. Di situ tertera namamu, komplit dengan inisial mesra yang kuberikan. Ada pesan darimu. Entah apa pesan itu, aku tak begitu paham. Aku senang karena kamu, ya kamu yang mengirimnya.
Pesanmu berhasil memusnahkan galaunya aku akan nada pendek sumbang yang keluar dari segenggam piranti keras ini. Kukira seperti biasa, dari operator yang mengompas pulsa atau pesan terusan teman yang mini arti.
Bagaimana harus kubalas?
Aku selalu berpikir keras untuk ini. Otakku serasa berkarat akut, geriginya macet untuk satu hal ini. Bertanya pun aku enggan. Malu. Urusan perempuan saja kok dibawa ke permukaan. Aku benar-benar kikuk. Mungkin sekikuk pribumi yang akan menyantap rijsttafel di meja bundar besar saat surya sepenggalah tingginya.
Aku teramat malu dengan kedip-kedip genit di ujung layar tempat seharusnya aksara pertama berada. Seolah dia bertanya di mana keberanianku. Keberanian untuk menjawab pesan ini sudah punah, bahkan ketika aku melihat nama pengirimnya, kata-kata menjadi barang langka. Aku curiga mereka -kata dan keberanian- berkoloni memberontak, memerdekakan diri dari tuan yang kecut dan takut.
Aku berusaha tidak memperlihatkan mimik bingung di depan layar. Namun nampaknya kurang berhasil. Buntu. Rasanya keinginanku membunuh tanda yang berkedip-kedip di ujung layar itu memuncak. Dia jelas-jelas mengejekku.
Akhirnya aku kalut, kutembak tanda itu dengan beberapa huruf. Huruf yang juga aku kumpulkan dari semilyar kombinasi di kepala untuk membalas pesan si perempuan. Aku sempat ragu, warna hijau latar layar monokromku jadi begitu suram. Tapi toh ibu jariku lebih punya kuasa, dia tekan pelatuknya dan terkirim balasan :
“Ya, ada apa?”
______
gambar diambil dari sini.Rabu, 14 Juli 10
One response to Pesan Pendek
Ada apa? Baik-baik saja.