Sepi
Dalam sampul ruang yang riuh selalu ada spasi sunyi yang menjadi anomali.
Saya berada di dalam lingkaran manusia yang berisik dan masih merasa sepi. Hilang selera untuk berbicara dan menganggap segala sesuatunya akan segera selesai begitu saja, saya hilang dalam semesta keramaian. Keramaian berupa rombongan pembentuk ruang yang sibuk sendiri, dan saya tentu mesti berpikir sejuta kali untuk kemudian mau mengerti, mengapa ruang ini begitu hebat dalam berkongsi dan menggiring opini, menyudutkan satu bagian dari populasi yang paling jauh, dan kemudian mendorongnya hingga jatuh. Bagian populasi yang paling sepi.
Saya sadar sepi itu indah, kita bisa berkompromi dengan senyum-senyum sinis dan memberi penghakiman hanya dalam hati. Saya juga mengakui sepi itu berisik, menciptakan gangguan yang surreal dan meminta untuk dijatuhkan dan tidak dianggap sekaligus. Saya tahu saya tidak bisa mempercayai sepi karena doktrinnya yang mengajarkan untuk curiga, sembunyi, dan anti-mengetahui.
Saya dan sepi sering memilih untuk berdamai dengan ramai, tapi selalu gagal ketika sadar bahwa kedamaian bukan sebuah pilihan. Ketika rombongan keramaian berkonspirasi jahat dan membicarakan saya di belakang, saya sadar dan mendengarkan, tapi lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, memendam kebencian.
Ah itu mungkin sekadar pendapat, saya mungkin bisu tanpa alasan dan justru sibuk mencari pembenaran dan gagasan supaya terlihat dan memperoleh perhatian. Atau mungkin kebisuan saya adalah simbol konfrontasi ketidaksetujuan dengan kenyamanan, semacam alergi keramaian, siapa tahu? Yang jelas ketika saya bisu dan diam dalam keriuhan, saat itulah saya disedot kesendirian, melayang dan terperangkap dalam kesepian. Tapi saya menikmati.
Kamis, 6 Oktober 11