Jogja

Bagi banyak orang Jogja adalah romantisme, begitu juga buat saya. Setiap jengkal jalan di Jogja yang hirukpikuk, juga tetes hujan yang gagal melesap lewat aspal punya cerita dan kenangannya masing-masing. Berbeda dengan Jakarta dan Surabaya yang orang-orangnya saling bersicepat, Jogja menawarkan keramahan dan kekecilan ruang sehingga manusianya intim dan tidak saling membalap untuk menjatuhkan.

Dua bulan di Jogja memang belum bisa menempatkan diri saya ceria di tengah ramah dan sejuknya manusia Jogja, tapi saya suka menikmati dan mengamatinya. Sangat khas Jawa, simbol-simbol bahasa dan tutur khasnya, pakeuweuhnya. Memang saya hidup di jantung Jogja yang berdenyut nyaris 24 jam sehari, tapi toh selalu ada jeda-jeda kecil dan detail-detail yang sangat asyik diperhatikan. Saya bisa luluh dengan matahari sore Jogja yang begitu romantis memancarkan warna keperakan dari setiap pantulannya pada daun dan belukar yang rimbun. Saya juga bisa betah bergeming meratap genting yang bersuara merdu diterpa hujan perlahan.

Harmoni Jogja, jalan raya yang semrawut berpadu padan dengan apik bersama jalan setapak pinggiran yang sepi, yang untuk sekadar lewat anjing pun ngeri. Plengkung dan liuk-liuk jalan yang ikonik, semuanya begitu estetis dan menggembirakan bagi jiwa saya yang sudah terlalu jenuh dan rindu tamasya-tamasya rasa. Pantai-pantai dan gunung di Jogja punya horisonnya masing-masing, udara pun saya yakin betah dan enggan pergi dari sela-sela ranting pohon yang mendiaminya.

Jalinan emosi bulan dan matahari yang menyinari Jogja juga menawarkan kenyamanan sendiri, saling ganti mengisi dan menawarkan spesialnya pagi dan malam di Jogja yang serasi. Ketika pagi -pagi matahari melucuti dingin, Jogja memberikan sapaan di setiap perempatan. Begitu juga ketika diganti oleh bulan dan kuning temaram petromaks-petromaks angkringan, ada refleksi di dalamnya, Jogja yang menyala tanpa membara, Jogja yang orang-orangnya istimewa. Saya bisa mendengar kalau kota ini bersuara dengan arif, setiap seret jejak langkah di atasnya punya makna. Bahkan mungkin meninggalkan segenggam cinta.

Selasa, 1 November 11

2 responses to Jogja

  1. Dian said:

    Jogja emang ga ada duanya, kota termuah di hati *halah* :D

  2. meninggalkan segenggam cinta, untuk meraih cinta yang lebih besar. :)

    ah.. jadi keingetan masa lalu.. *eh*

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>