<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kertas Buram</title>
	<atom:link href="http://kertasburam.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kertasburam.dagdigdug.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 11:05:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Blogger, Sebuah Lokomotif Perubahan Sosial</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/12/03/blogger-sebuah-lokomotif-perubahan-sosial/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/12/03/blogger-sebuah-lokomotif-perubahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 07:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi dan Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[Acer]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[On|Off]]></category>
		<category><![CDATA[Social Movement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Mari kita turun tangan, daripada kita lipat tangan sambil mengecam. - Anies Baswedan Pada masa kini telah terjadi pergeseran makna blogger dan blog itu sendiri, dari yang pada awalnya sekadar sebagai sarana curhat dan bersosialita, kini telah menjadi sebuah corong&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/12/03/blogger-sebuah-lokomotif-perubahan-sosial/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Mari kita turun tangan, daripada kita lipat tangan sambil mengecam.</em><br />
<em>- Anies Baswedan</em></p></blockquote>
<p>Pada masa kini telah terjadi pergeseran makna blogger dan blog itu sendiri, dari yang pada awalnya sekadar sebagai sarana curhat dan bersosialita, kini telah menjadi sebuah corong pergerakan. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyaknya gerakan sosial yang telah dilakukan oleh blogger, mulai itu yang bersifat individu ataupun berkelompok, yang tentu nyata dalam aksi dan kontribusi. Sebut saja gerakan <em>Seribu Buku</em> dan <em>Bloggers for Bangsari</em> yang digagas oleh komunitas blogger BHI, gerakan <em>Coin a Chance</em> yang dicetuskan oleh duo Hanny dan Nia, atau juga jejaring <em>Blood for Life</em> yang digagas oleh Silly, yang mungkin hingga sekarang tidak terhitung lagi telah berapa banyak jiwa yang diselamatkan berkat gerakan ini.</p>
<p>Hari ini, Sabtu 3 Desember 2011, acara On|Off menghadirkan banyak blogger-blogger potensial serta menyajikan banyak model gerakan sosial yang menginspirasi, salah satunya yang sejak dulu begitu menginspirasi saya dan kini beruntung menjadi satu sesi tersendiri dalam acara On|Off ini adalah gerakan Indonesia Mengajar.<span id="more-459"></span></p>
<p><strong>Indonesia Mengajar</strong></p>
<p>Saya sangat tertarik dengan program Indonesia Mengajar, bagaimana sarjana-sarjana yang masih muda umurnya nekad dibekali lantas diterjunkan ke pelosok Indonesia untuk mengajar sekolah-sekolah di sana. Bagaimana mereka mampu dan lebih utamanya lagi mau menjadi motor eskalator sosial bagi masyarakat sekitar sudah tentu menyentuh haru dan pasti menginspirasi.</p>
<p>Penolakan sudah bukan barang asing bagi pengajar muda dari Program Indonesia Mengajar ini, mulai dari keluarga sendiri sampai masyarakat di daerah tujuan sudah tentu mereka hadapi. Kreasi mereka dalam meluruskan pandangan-pandangan bengkok akan keputusan yang diambil dan kemampuan mereka untuk meyakinkan sungguh luar biasa.</p>
<p>Ketika pada akhirnya mereka direlakan oleh keluarga dan diterima oleh lingkungan barunya, berjuanglah mereka dalam keterbatasan, dalam minimnya penerangan, dalam sempit dan rusaknya ruangan. Tulus, ketika kesusahan datang silih berganti kata tuluslah yang sering-sering didengungkan supaya terus bertahan dan kuat terhadap cobaan. Rasa tulus kemudian bahagia inilah yang juga muncul secara spontan ketika mereka sukses menyunggingkan senyum-senyum bahagia pada anak didiknya, ketika murid-murid selesai berjibaku di kelas melawan kata dan angka, dan pada akhirnya menang.</p>
<p><strong>Menciptakan Perubahan, Oleh Saya</strong></p>
<p>Mungkin memang kapasitas saya belum sedahsyat kakak-kakak yang telah lebih dulu terjun ke masyarakat, memberikan bimbingan berupa pendidikan yang terstruktur dan mantap. Namun jujur saya amat terinspirasi oleh para pengajar muda, juga blogger-blogger yang beraksi sosial, tanpa pamrih. Untuk itu dalam skala kecil saya beserta beberapa orang teman satu fakultas memiliki ide melakukan gerakan sosial dan sudah direalisasikan, ya meskipun itu akan berjalan secara bertahap.</p>
<p>Gerakan ini bernama <a title="oska" href="http://www.facebook.com/organisasisosialkaudanaku" target="_blank">Organisasi Sosial Kau dan Aku</a>. Berbasis di Yogyakarta, sebagai organisasi kecil mungkin belum banyak yang tahu tentang kami. Kami memiliki kegiatan yang fokus kepada anak-anak, khususnya anak-anak penderita kanker di bangsal khusus RS. Sardjito, Yogyakarta. Kegiatan kami meliputi membantu memenuhi kebutuhan darah (melalui program darahrurat) dan memberi suplemen pendidikan (melalui program tutor sahabat) kepada anak-anak penderita kanker di RS. Sardjito tersebut.</p>
<p>Memang, saya bukanlah seorang pekerja lapangan, saya tidak melakukan pencarian donor darah secara langsung atau memberikan pengajaran, kompetensi saya masih belum memadai. Untuk sementara saya menjadi motor organisasi dalam publikasi organisasi ini, mengajak baik secara online maupun offline warga, khususnya mahasiswa, agar mau ikut berpartisipasi.</p>
<p>Kerja saya dalam organisasi ini lebih sebagai social manager merangkap designer yang mana menuntut saya menghabiskan banyak waktu di balik laptop. Bagaimana saya menyusun strategi publikasi, menyusun dan mendesain materinya, sampai dengan menyebarkan berita darurat seperti adanya permintaan darah mendadak menjadi pekerjaan rutin saya. Untuk itu saya rasa tidak berlebihan jika laptop yang prima menjadi sebuah keharusan bagi saya.</p>
<p><strong><a title="AcerID" href="http://www.acerid.com/" target="_blank">Acer Aspire S3 Ultrabook</a></strong> menjawab kebutuhan saya. Mobilitas dan durabilitas yang ditawarkan produk Acer yang satu ini patut diacungi jempol, ketipisan unit ini sudah tentu memangkas berat dan kebutuhan ruang di dalam tas sehingga memudahkan saya untuk bergerak, ditambah dengan frame khusus menjadikan Acer Aspire S3 Ultrabook ini semakin tahan banting, betul-betul menawarkan fleksibilitas dalam bekerja dalam kondisi apapun. Pekerjaan yang seringkali datang mendadak saya rasa tidak menjadi masalah bagi produk Acer yang satu ini, fitur Instant On menjadikan kecepatan laptop ini dalam merespon pekerjaan yang tiba-tiba datang bisa diandalkan, bayangkan hanya dalam hitungan detik begitu laptop dibuka langsung menyala sekaligus langung terkoneksi dengan dunia maya. Singkatnya, Acer Aspire S3 Ultrabook ini begitu memudahkan saya dalam berkarya <img src='http://kertasburam.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/files/2011/12/IMG_1304small.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-468" src="http://kertasburam.dagdigdug.com/files/2011/12/IMG_1304small.jpg" alt="" width="480" height="360" /></a></p>
<p style="text-align: center"><em>Berfoto di booth Acer sambil menjajal betapa mumpuninya Acer Aspire S3 Ultrabook</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Pada akhirnya, jiwa-jiwa sosal dalam setiap entitas online diyakini akan semakin berkembang dan mewabah, menjalarkan semangat optimisme. Gadget-gadget penopang aktivitas online pastinya akan semakin lantang menampilkan dan menyuarakan gagasan-gagasan baru, menciptakan kesempatan, dan pada akhirnya ketika keduanya bersinergi, when ideas meet opportunities, akan menciptakan optimisme perubahan yang masif, menjalin montase-montase kreasi, membuat kita bisa melihat Indonesia dengan perspektif optimis!</p>
<p>Seperti kata Anies Baswedan dalam pidatonya yang inspiratif pagi tadi : <strong><em>Today, you have the opportunity to challenge the optimism with the new wave of optimism!</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/12/03/blogger-sebuah-lokomotif-perubahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jodoh</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/07/jodoh/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/07/jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 17:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Jadi jomblo itu tidak perlu malu, tapi perlu usaha. Sudah sekian banyak teman yang bilang demikian pada saya, mengompori agar lekas cari pacar, atau mungkin lebih tepat sedikit mengejek sih. Tentu saya tidak pernah marah ketika mereka tanya apa kesendirian&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/07/jodoh/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>Jadi jomblo itu tidak perlu malu, tapi perlu usaha.</em></strong></p></blockquote>
<p>Sudah sekian banyak teman yang bilang demikian pada saya, mengompori agar lekas cari pacar, atau mungkin lebih tepat sedikit mengejek sih. Tentu saya tidak pernah marah ketika mereka tanya apa kesendirian selama sembilan belas tahun itu bikin lelah. Pada dasarnya mereka teman yang baik, begitu perhatian. Sayang saran agar saya segera berpacar tidak disertai solusi yang jitu.</p>
<p>Kenapa Juga Saya Masih Betah Menjomblo?<span id="more-447"></span></p>
<p>Hmm&#8230; mungkin karena saya terlalu takut berkomitmen, takut nantinya nggak bisa bikin bahagia pacar lantas putus dan berhenti tukar kabar. Padahal buat membahagiakan orang tua saja saya masih berusaha setengah mati, kalau ditambah setengah mati lagi buat pacar di mana sisa hidup saya?</p>
<p>Saya juga takut berubah. Saya merasa nyaman dengan pola pikir dan teman bermain yang kekanak-kanakan, berpikir kalau di dunia ini ya kita cuma bermain. <em>Homo ludens. </em>Takut juga kalau nanti pacar cuma jadi teman main, atau malah jadi mainan <img src='http://kertasburam.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Terakhir, agak klise sih, walaupun saya nggak beriman-beriman amat tapi saya juga masih takut dengan hukum agama, takutnya nanti kalau pacaran tindakan saya bisa kemana-mana. Haduh!</p>
<p>Tapi, bukan berarti saya yang banyak takutnya ini menutup diri sama wanita juga, walaupun juga kadang masih agak risih dan kurang nyaman gitu ya. Biarkan saya berkembang dan menemukan jodoh saya sendiri, saya yakin dengan apa yang saat ini saya jalani. Saya masih yakin kalau memang jodoh nggak kemana, kalau kemana-mana namanya bukan jodoh <img src='http://kertasburam.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/07/jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/01/jogja/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/01/jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 05:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Bagi banyak orang Jogja adalah romantisme, begitu juga buat saya. Setiap jengkal jalan di Jogja yang hirukpikuk, juga tetes hujan yang gagal melesap lewat aspal punya cerita dan kenangannya masing-masing. Berbeda dengan Jakarta dan Surabaya yang orang-orangnya saling bersicepat, Jogja&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/01/jogja/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi banyak orang Jogja adalah romantisme, begitu juga buat saya. Setiap jengkal jalan di Jogja yang hirukpikuk, juga tetes hujan yang gagal melesap lewat aspal punya cerita dan kenangannya masing-masing. Berbeda dengan Jakarta dan Surabaya yang orang-orangnya saling bersicepat, Jogja menawarkan keramahan dan kekecilan ruang sehingga manusianya intim dan tidak saling membalap untuk menjatuhkan.<span id="more-439"></span></p>
<p>Dua bulan di Jogja memang belum bisa menempatkan diri saya ceria di tengah ramah dan sejuknya manusia Jogja, tapi saya suka menikmati dan mengamatinya. Sangat khas Jawa, simbol-simbol bahasa dan tutur khasnya, pakeuweuhnya. Memang saya hidup di jantung Jogja yang berdenyut nyaris 24 jam sehari, tapi toh selalu ada jeda-jeda kecil dan detail-detail yang sangat asyik diperhatikan. Saya bisa luluh dengan matahari sore Jogja yang begitu romantis memancarkan warna keperakan dari setiap pantulannya pada daun dan belukar yang rimbun. Saya juga bisa betah bergeming meratap genting yang bersuara merdu diterpa hujan perlahan.</p>
<p>Harmoni Jogja, jalan raya yang semrawut berpadu padan dengan apik bersama jalan setapak pinggiran yang sepi, yang untuk sekadar lewat anjing pun ngeri. Plengkung dan liuk-liuk jalan yang ikonik, semuanya begitu estetis dan menggembirakan bagi jiwa saya yang sudah terlalu jenuh dan rindu tamasya-tamasya rasa. Pantai-pantai dan gunung di Jogja punya horisonnya masing-masing, udara pun saya yakin betah dan enggan pergi dari sela-sela ranting pohon yang mendiaminya.</p>
<p>Jalinan emosi bulan dan matahari yang menyinari Jogja juga menawarkan kenyamanan sendiri, saling ganti mengisi dan menawarkan spesialnya pagi dan malam di Jogja yang serasi. Ketika pagi -pagi matahari melucuti dingin, Jogja memberikan sapaan di setiap perempatan. Begitu juga ketika diganti oleh bulan dan kuning temaram petromaks-petromaks angkringan, ada refleksi di dalamnya, Jogja yang menyala tanpa membara, Jogja yang orang-orangnya istimewa. Saya bisa mendengar kalau kota ini bersuara dengan arif, setiap seret jejak langkah di atasnya punya makna. Bahkan mungkin meninggalkan segenggam cinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/11/01/jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemana Perginya Kata?</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/29/kemana-perginya-kata/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/29/kemana-perginya-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 18:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Saya tersesat dan sering lupa dalam belantara kata. Dunia penuh alfabet telah lama membuat saya jemu dan mentok, tapi biar bagaimanapun dunia penuh alfabet ini, blog, telah mengantarkan saya kepada dunia baru yang makhluk-makhluknya sangat menggembirakan dan cerah memberi pelajaran&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/29/kemana-perginya-kata/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tersesat dan sering lupa dalam belantara kata. Dunia penuh alfabet telah lama membuat saya jemu dan mentok, tapi biar bagaimanapun dunia penuh alfabet ini, blog, telah mengantarkan saya kepada dunia baru yang makhluk-makhluknya sangat menggembirakan dan cerah memberi pelajaran bahwa tidak setiap kebaikan diabaikan, begitu juga dengan kejahatan.</p>
<p>Dalam rimba kata-kata saya menemukan cinta, cinta yang jauh dari gelora yang berkobar dan hasrat yang menggebu. Cinta yang saya temukan adalah cinta yang lembut mengalir dan penuh keasyikan dalam mengamatinya, menjadikan cinta itu sebagai wahana tamasya rohani, sensasinya begitu menenangkan. Cinta pada rimba aksara ibarat sebuah kotak ajaib, kita tidak bisa seketika tahu apa yang ada di dalamnya dan di mana dasarnya. Jalani sajalah.</p>
<p>Di bawah naungan mendung kata-kata bergabung dan membingkai makna, menjadi idaman penulis yang nyaris mati, tersudut kebuntuan. Saya juga sering menemukan habis jalan dan kemudian menyerah kembali meninggalkan, setelah sembuh kembali saya berjalan mencari kata. Momen yang paling menggembirakan mungkin ketika kita dibawa hanyut atau tersesat dalam samudera dan labirin kata tetapi kita bisa menemukan sebuah pulau baru yang indah dan baru saat itu akal kita bisa menjamah.</p>
<p>Saya mencintai kata, tepat di bawa orang tua dan sejajar dengan &#8220;dia&#8221;, dan ketika kata-kata mulai terbang menghilang, pena dan papan ketik menangkap kembali lalu kemudian memeliharanya agar lestari dan dapat terus saya nikmati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/29/kemana-perginya-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepi</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/06/sepi/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/06/sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 12:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sampul ruang yang riuh selalu ada spasi sunyi yang menjadi anomali. Saya berada di dalam lingkaran manusia yang berisik dan masih merasa sepi. Hilang selera untuk berbicara dan menganggap segala sesuatunya akan segera selesai begitu saja, saya hilang dalam&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/06/sepi/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dalam sampul ruang yang riuh selalu ada spasi sunyi yang menjadi anomali.</em></p>
<p>Saya berada di dalam lingkaran manusia yang berisik dan masih merasa sepi. Hilang selera untuk berbicara dan menganggap segala sesuatunya akan segera selesai begitu saja, saya hilang dalam semesta keramaian. Keramaian berupa rombongan pembentuk ruang yang sibuk sendiri, dan saya tentu mesti berpikir sejuta kali untuk kemudian mau mengerti, mengapa ruang ini begitu hebat dalam berkongsi dan menggiring opini, menyudutkan satu bagian dari populasi yang paling jauh, dan kemudian mendorongnya hingga jatuh. Bagian populasi yang paling sepi.</p>
<p>Saya sadar sepi itu indah, kita bisa berkompromi dengan senyum-senyum sinis dan memberi penghakiman hanya dalam hati. Saya juga mengakui sepi itu berisik, menciptakan gangguan yang surreal dan meminta untuk dijatuhkan dan tidak dianggap sekaligus. Saya tahu saya tidak bisa mempercayai sepi karena doktrinnya yang mengajarkan untuk curiga, sembunyi, dan anti-mengetahui.</p>
<p>Saya dan sepi sering memilih untuk berdamai dengan ramai, tapi selalu gagal ketika sadar bahwa kedamaian bukan sebuah pilihan. Ketika rombongan keramaian berkonspirasi jahat dan membicarakan saya di belakang, saya sadar dan mendengarkan, tapi lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, memendam kebencian.</p>
<p>Ah itu mungkin sekadar pendapat, saya mungkin bisu tanpa alasan dan justru sibuk mencari pembenaran dan gagasan supaya terlihat dan memperoleh perhatian. Atau mungkin kebisuan saya adalah simbol konfrontasi ketidaksetujuan dengan kenyamanan, semacam alergi keramaian, siapa tahu? Yang jelas ketika saya bisu dan diam dalam keriuhan, saat itulah saya disedot kesendirian, melayang dan terperangkap dalam kesepian. Tapi saya menikmati.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/10/06/sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nostalgia, Nalar, dan Masa Depan</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/09/12/nostalgia-nalar-dan-masa-depan/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/09/12/nostalgia-nalar-dan-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 03:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukanlah seorang Goenawan Mohamad, jenius bidang tulis menulis yang lahir di kampung nelayan pesisir utara Pulau Jawa. Saya juga bukan orang yang lahir dari keluarga yang terlampau kritis akan masalah sosial, yang mengeluhkan dahsyatnya erosi moral di sekitar kita.&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/09/12/nostalgia-nalar-dan-masa-depan/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bukanlah seorang Goenawan Mohamad, jenius bidang tulis menulis yang lahir di kampung nelayan pesisir utara Pulau Jawa. Saya juga bukan orang yang lahir dari keluarga yang terlampau kritis akan masalah sosial, yang mengeluhkan dahsyatnya erosi moral di sekitar kita. Saya tidak yakin juga sebetulnya siapa diri saya, kalau dunia diibaratkan sebuah sistem mekanik maka mungkin saya adalah satu sekrup yang terselip dan sudah malfungsi.</p>
<p>Saya lahir dari keluarga sederhana, waktu kecil saya amat kagum dengan ungkapan Shakespare yang masyhur itu, &#8220;Apalah arti sebuah nama&#8221;, karena saya juga tidak tahu apa arti nama saya sendiri, semacam sebuah krisis mikro identitas. Saya pernah merasakan masa kecil di pusat megalopolitan negara Indonesia sekaligus desa antah berantah dalam waktu yang berdekatan. Hidup dalam dua ketimpangan saat kecil membuat saya antisosial, alergi terhadap problema negara. Beranjak remaja saya semakin tersesat, seolah-olah saya berada dalam lingkaran persekutuan pemuja uang. Untungnya saya masih bisa cukup keren menahan wangi-wangi keduniawian.</p>
<p>Secara mental usia saya berhenti pada umur lima belas tahun. Saya merasa di tahun itu dunia terasa terang dan menyenangkan, jauh dari karut-marut pikiran. Namun tentu zaman terus berjalan dan fisik mau tidak mau harus ikutan. Masuk tahap dewasa saya mengalami berbagai penolakan, baik oleh sekitar maupun oleh diri sendiri, bertubi-tubi kegagalan, dan selingan manis kenangan untuk ditertawakan. Saya makin matang dan siap merencanakan masa depan.</p>
<p>Dari mata turun ke hati. Saya jatuh cinta dengan tampilan visual dan aneka warna, tapi juga sekaligus menjadi pemuja dari beragam folklor sejarah dan sastra. Menimbang-nimbang dua kegemaran dan potensinya menambah kekayaan, malah membuat saya insyaf bahwa sebetulnya saya adalah manusia tanpa cita-cita. Satu-satunya cita-cita saya adalah membahagiakan orang tua, soal jodoh dan pekerjaan saya pikir saya hanya bisa menjalani apa yang ada dan saya senangi, saya tidak mau menutup diri dan melawan dunia sendiri. Keamatiran itu menyenangkan, karena menurut saya akan selalu akan ada jendela ilmu yang terbuka dan saling berkaitan ketika kita mempelajari apa yang kita suka dari hati, bukan sekadar gengsi dan arogansi.</p>
<p>Masa depan saya adalah kesuksesan masa lampau. Saya bukanlah arsitek terpuji dalam soal merancang masa depan, tapi saya yakin bisa membangun masa depan yang walaupun tidak megah dan bukan sebagai penanda sebuah era, tapi tetap memiliki nafas dan nyawanya sendiri. Masa depan gemilang bagi saya merupakan bagian lengkap masa lampau, bagaimana kita menempatkan sudut pandang dan melepasnya sampai ke cakrawala tanpa batas, membebaskan akal pikiran dan membuat kita tetap eksis. <em>Cogito ergo sum</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/09/12/nostalgia-nalar-dan-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anti Hero</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/25/anti-hero/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/25/anti-hero/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2011 17:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[hero]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Negeri ini adalah laham subur untuk bercocok tanam dan mengembangbiakkan pahlawan. Indonesia memang negara penuh sukma-sukma bangsa, bertebaran dimana-mana, hingga pasti nanti Jakarta sebagai ibukotanya akan penuh sesak dengan patung-patung pahlawan baru yang bahkan kita tidak kenal itu siapa. Pahlawan&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/25/anti-hero/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Negeri ini adalah laham subur untuk bercocok tanam dan mengembangbiakkan pahlawan.</p>
<p>Indonesia memang negara penuh sukma-sukma bangsa, bertebaran dimana-mana, hingga pasti nanti Jakarta sebagai ibukotanya akan penuh sesak dengan patung-patung pahlawan baru yang bahkan kita tidak kenal itu siapa. Pahlawan proklamasi, pahlawan reformasi, sampai pahlawan sehari-hari semuanya diakui. Mungkin nanti ada kolom pada KTP yang menjelaskan pahlawan apa pemegangnya.</p>
<p>Buat semua orang pahlawan itu subjektif adanya. Bagi kita memang Pattimura adalah pahlawan yang bentuk pengenangannya layak dipatri di muka uang seribu rupiah, tapi bagi Belanda tentu Pattimura tidak lebih dari pemberontak. Pahlawan kita, pengacau mereka. Cornelis de Houtman sebaliknya, bangsa eropa memuja-mujanya sebagai penemu jalan sutera menuju sentra rempah-rempah dunia, tapi bagi kita bangsa Indonesia dia adalah pembuka pintu neraka.</p>
<p>Lalu siapa pahlawan kita sebenarnya?</p>
<p>Banyak tentu yang menjawab orang tua. Tidak salah memang, merekalah yang banyak berjasa pada kita, mungkin juga suatu saat perlu dibikin patung oleh anak-anaknya karena mereka adalah pahlawan keluarga. Tapi lihat jugalah orang-orang sekitar yang telah menyelamatkan kita. Bukan cuma tukang sampah yang menghindari kita berbau-bau ria di pembuangan, lebih dalam lagi. Orang bodoh yang membuat kita terlihat pintar, orang lemah yang membuat kita terlihat kuat, sampai pejabat yang membuat kita bisa jadi rakyat dan menggugat seolah kita paling benar.</p>
<p>Mereka yang dengan kekuatan tidak supernyalah yang menyelamatkan keseharian kita, pahlawan tanpa kostum dan tanpa perlu diaku orang banyak. Kekuatan mereka lebih dari apa yang dikatakan oleh Oprah sebagai <em>Day to Day Hero</em>, lebih dari pahlawan pengawasan, Ibu Lilis di Malang, atau Nyonya Siami di Surabaya yang dijuluki pahlawan kejujuran.</p>
<p>Merekalah, pahlawan kesiangan, pahlawan tanpa kekuatan yang menyelamatkan kita. Menyulap kita menjadi seolah pahlawan sesungguhnya yang punya aneka kekuatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/25/anti-hero/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lupa</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/24/lupa/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/24/lupa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 18:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[amnesia]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal yang sering kita tidak harapkan tetapi mau tak mau harus terjadi, atau kadang sebaliknya perlu dibuang tetapi lekat ternngiang-ngiang. Saya adalah orang yang menolak lupa, sayang seringnya tidak sengaja. Banyak SMS yang rapi pada tempatnya, kalau sempat dan&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/24/lupa/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hal yang sering kita tidak harapkan tetapi mau tak mau harus terjadi, atau kadang sebaliknya perlu dibuang tetapi lekat ternngiang-ngiang.</p>
<p>Saya adalah orang yang menolak lupa, sayang seringnya tidak sengaja. Banyak SMS yang rapi pada tempatnya, kalau sempat dan ingin dibaca lagi tinggal dibuka. Banyak senangnya dan tidak sedikit pahitnya, tapi toh tetap saya simpan juga. Buku juga penuh coretan walaupun sekarang jarang saya perhatikan dan mulai berceceran, tapi buku adalah media abadi membungkus kejadian dengan bumbu nostalgia tulisan tangan. Setua-tuanya buku masih bisa dibuka.</p>
<p>Apa yang bisa kita tolak untuk lupa selain kenangan? Pasti pernah waktunya saat ingatan dari masa lalu tiba-tiba terbuka dan mengurung kepala, tahu-tahu pacar zaman sekolah dulu terkelebat, ataukah itu cuma sekadar cerita lucu yang menguap dari padatnya kegiatan di kantor. Artefak kehidupan menurut hemat saya selalu tersimpan dalam otak, tinggal apakah ada di permukaan atau di selipan. Kertas dan segala media rekam, termasuk internet, membantu kita menemukan kembali. Menyuburkan lagi kembang-kembang ingatan atau mendedel lagi bekas luka yang pernah kering.</p>
<p>Apa yang paling ingin kita lupa?</p>
<p>Saya, tentu juga seperti banyak yang lainnya ingin lupa akan susahnya hidup. Pokoknya hidup itu cuma urusan senang-senang, urusan nangis dan marah sebaiknya tidak ada. Sayang dalam kenyataan tidak demikian, saya bisa saja sengaja tidak mau ingat, tapi ingatan kolektif sekitar saya bisa saja memicu. Entah itu ingatan kawan, atau ingatan yang terpercik dari pandangan sekilas terhadap barang. Merekalah yang mengatasi kealpaan dan mencegah amnesia.</p>
<p>Ngomong-ngomong kemana perginya kenangan kalau kita amnesia ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/08/24/lupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twitter Wisdom</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/21/twitter-wisdom/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/21/twitter-wisdom/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 19:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tongki Ari Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selingan]]></category>
		<category><![CDATA[twitter. love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kamu menulis status sedih nan galau di timeline dan dibalas -reply maupun RT- dengan perasaan atau malah candaan? It&#8217;s OK, seenggaknya mereka yang bales itu perhatian, soal candaan mungkin merekanya aja kurang peka dan ya hey ini twitter, siapa&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/21/twitter-wisdom/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kamu menulis status sedih nan galau di timeline dan dibalas -<em>reply maupun RT</em>- dengan perasaan atau malah candaan? It&#8217;s OK, seenggaknya mereka yang bales itu perhatian, soal candaan mungkin merekanya aja kurang peka dan ya hey ini twitter, siapa yang membalas di sana tidak tahu mimik muka kita.</p>
<p>Oh bukankah kita memang makhluk haus perhatian? Oke kembali ke topik, kadang ataupun sering balesan yang masuk di twitter itu beneran &#8220;masuk&#8221;, ya karena mungkin emang pemirsa tweet kita emang temen kita atau malah karena follower kita kelewat banyaknya.</p>
<p>Banyak lho saran yang ampuh, yang datang dari jari-jemari pemegang blackberry, yang kadang sarannya itu lebih dari solusi. Misal :</p>
<address>tweet 1 : &#8220;pengen punya pacar nih, si anu kayanya boleh juga, tapi aku maluu..&#8221;</address>
<p>anggap saja si tweet 1 ini adalah seorang biasa dengan follower yang nggak banyak-banyak amat, toh ada juga yang ngasih respons</p>
<address>tweet 2 : &#8220;ayodongdongdong 2011 masih pemalu? helloo&#8230; <img src='http://kertasburam.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> &#8221;</address>
<address>tweet 3 : &#8220;wah elo ternyata suka sama si anu? si anu kan udah punya cowo&#8221;</address>
<p><strong><span id="more-398"></span>prak.</strong></p>
<p>Tidak mencerahkan memang sih, tapi kan seenggaknya bisa membantu membuat langkah apa yang selanjutnya mesti dilakukan. Entah itu beli baygon atau belajar bikin simpul di tambang.</p>
<p>Karena pada dasarnya orang-orang itu punya keingintahuan ekstra di dunia maya alias kepo (ini istilah baru tau loh), dan untungnya mereka semua bukan Mario Teguh, saran mereka nggak generik dan sebagian besar dapat dipercaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/21/twitter-wisdom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iri, tetapi Dari Hati : Kejujuran Pikir Seorang Peranakan</title>
		<link>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/19/iri-tetapi-dari-hati-kejujuran-pikir-seorang-peranakan-2/</link>
		<comments>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/19/iri-tetapi-dari-hati-kejujuran-pikir-seorang-peranakan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 17:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tongki Ari Wibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi dan Rekomendasi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kertasburam.dagdigdug.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari twit dan tulisan di blog mas @blontankpoer yang menyebut-nyebut soal tulisan margareta saya pun terbawa penasaran, belakangan saya malah membeli dua buah bukunya, satu “After Orchard” dan satunya lagi “Excuse-Moi”. Kedua buku ini punya takarannya masing-masing, dua-duanya untung&#8230;  <a href="http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/19/iri-tetapi-dari-hati-kejujuran-pikir-seorang-peranakan-2/">continue reading</a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari twit dan tulisan di blog mas @blontankpoer yang menyebut-nyebut soal tulisan margareta saya pun terbawa penasaran, belakangan saya malah membeli dua buah bukunya, satu “After Orchard” dan satunya lagi “Excuse-Moi”. Kedua buku ini punya takarannya masing-masing, dua-duanya untung bagus <img src='http://kertasburam.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Berikut salah satu resensi yang saya bikin untuk buku “Excuse-Moi”, semoga layak baca …</p>
<p>Coba pikirkan, mana yang akan orang tua pilih jika diberi dua opsi buruk ini : Punya anak kecanduan narkoba atau punya anak yang kawin lari dengan pria beda agama, beda suku, beda segalanya? (Durhaka Anonymous, halaman 128)<br />
Dilema yang begitu menohok. Bagaimana jodoh yang berbeda disandingkan dengan madat. Keras memang, namun ini baru sebagian pilihan yang dihidangkan buku ini. Patut digarisbawahi pula bahwa yang menjadi sorotan utama dalam buku ini adalah kaum peranakan. Istilah awamnya, keturunan Cina. Ya, tentang bagaimana mereka menghadapi banyak pilihan sadis dan stereotip tragis dari lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Orang Cina. Berarti bukan Indonesia, <span id="more-396"></span>bukan pribumi kata sebagian orang, bahkan sebagian itu merasa tersinggung jika disamakan entah itu dari segi fisik maupun sifat dengan orang Cina. Ya, Cina, bukan China –yang dalam pelafalan disebut chaina– ataupun Tionghoa. Pelit, perhitungan, dan sebagainya, itulah yang dicirikan dalam buku ini tentang sebagian besar pemikiran terhadap orang Cina di Indonesia, dan itu benar bahwa ada sebagian yang berpikir demikian.</p>
<p>Buku ini menghibur serta halus mengelus ego, bagaimana Margie –penulis sekaligus tokoh utama– dituntut untuk terampil bersikap. Bagaimana dia menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang ditujukan hanya karena dia “tidak cukup Cina” sekaligus “tidak cukup Indonesia” dalam waktu yang bersamaan.  Bukan melulu drama tentang lakonnya di Singapura seperti bukunya yang lain, After Orchard. Di sini Margie lebih berbagi bagaimana seorang peranakan yang minoritas beradu perspektif dengan orang kebanyakan yang nyinyir dan acapkali sinis terhadap orang Cina. Selama bertahun-tahun ini dilakukannya. Sudah pasti sulit dan berbelit, tapi toh Margie meracik ceritanya dengan bahasa sehari-hari plus bumbu-bumbu kelucuan yang mungkin sedikit satir, menjadikan tulisannya tidak melulu berkobar-kobar, ada kalanya tenang namun menghujam.</p>
<p>Excuse-moi. Permisi, memang nampaknya harus ada di bagian pendahuluan sebelum membahas begitu banyak topik yang apik namun teramat sensitif. Coba tengok ketika Margie merasa lebih Indonesia namun kemudian menemukan ironi dari pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah pembakaran rumah ibadah dan pemukulan umat agama lainnya yang dia anggap telah mengingkari sila pertama karena tentulah si pelaku merasa Tuhannya berbeda dengan Tuhan mereka yang dilempari batu.</p>
<p>Buku ini menggiring untuk lebih dari membaca, tetapi juga mendengar jeritan hati kaum peranakan yang ingin –dan memang seharusnya– disamakan derajatnya, punya hak dan kewajiban yang sama. Sama-sama Indonesia begitu istilahnya.</p>
<p>Manakah yang lebih menarik dari buku ini? Tentulah kejujuran yang terpapar cemerlang. Kejernihan Margie dalam mengutarakan pandangannya sangat menarik dan layak dipuji, sopan namun sedikit nakal, berani menyentuh marka terluar norma namun masih dalam batas yang ada.</p>
<p>Judul : Excuse-Moi</p>
<p>Penulis : Margareta Astaman</p>
<p>Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta</p>
<p>Cetakan : I, Januari 2011</p>
<p>Tebal : vi + 138 halaman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kertasburam.dagdigdug.com/2011/03/19/iri-tetapi-dari-hati-kejujuran-pikir-seorang-peranakan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

