Nostalgia, Nalar, dan Masa Depan
Saya bukanlah seorang Goenawan Mohamad, jenius bidang tulis menulis yang lahir di kampung nelayan pesisir utara Pulau Jawa. Saya juga bukan orang yang lahir dari keluarga yang terlampau kritis akan masalah sosial, yang mengeluhkan dahsyatnya erosi moral di sekitar kita. Saya tidak yakin juga sebetulnya siapa diri saya, kalau dunia diibaratkan sebuah sistem mekanik maka mungkin saya adalah satu sekrup yang terselip dan sudah malfungsi.
Saya lahir dari keluarga sederhana, waktu kecil saya amat kagum dengan ungkapan Shakespare yang masyhur itu, “Apalah arti sebuah nama”, karena saya juga tidak tahu apa arti nama saya sendiri, semacam sebuah krisis mikro identitas. Saya pernah merasakan masa kecil di pusat megalopolitan negara Indonesia sekaligus desa antah berantah dalam waktu yang berdekatan. Hidup dalam dua ketimpangan saat kecil membuat saya antisosial, alergi terhadap problema negara. Beranjak remaja saya semakin tersesat, seolah-olah saya berada dalam lingkaran persekutuan pemuja uang. Untungnya saya masih bisa cukup keren menahan wangi-wangi keduniawian.
Secara mental usia saya berhenti pada umur lima belas tahun. Saya merasa di tahun itu dunia terasa terang dan menyenangkan, jauh dari karut-marut pikiran. Namun tentu zaman terus berjalan dan fisik mau tidak mau harus ikutan. Masuk tahap dewasa saya mengalami berbagai penolakan, baik oleh sekitar maupun oleh diri sendiri, bertubi-tubi kegagalan, dan selingan manis kenangan untuk ditertawakan. Saya makin matang dan siap merencanakan masa depan.
Dari mata turun ke hati. Saya jatuh cinta dengan tampilan visual dan aneka warna, tapi juga sekaligus menjadi pemuja dari beragam folklor sejarah dan sastra. Menimbang-nimbang dua kegemaran dan potensinya menambah kekayaan, malah membuat saya insyaf bahwa sebetulnya saya adalah manusia tanpa cita-cita. Satu-satunya cita-cita saya adalah membahagiakan orang tua, soal jodoh dan pekerjaan saya pikir saya hanya bisa menjalani apa yang ada dan saya senangi, saya tidak mau menutup diri dan melawan dunia sendiri. Keamatiran itu menyenangkan, karena menurut saya akan selalu akan ada jendela ilmu yang terbuka dan saling berkaitan ketika kita mempelajari apa yang kita suka dari hati, bukan sekadar gengsi dan arogansi.
Masa depan saya adalah kesuksesan masa lampau. Saya bukanlah arsitek terpuji dalam soal merancang masa depan, tapi saya yakin bisa membangun masa depan yang walaupun tidak megah dan bukan sebagai penanda sebuah era, tapi tetap memiliki nafas dan nyawanya sendiri. Masa depan gemilang bagi saya merupakan bagian lengkap masa lampau, bagaimana kita menempatkan sudut pandang dan melepasnya sampai ke cakrawala tanpa batas, membebaskan akal pikiran dan membuat kita tetap eksis. Cogito ergo sum.
Senin, 12 September 11 1 Comment
Anti Hero
Negeri ini adalah laham subur untuk bercocok tanam dan mengembangbiakkan pahlawan.
Indonesia memang negara penuh sukma-sukma bangsa, bertebaran dimana-mana, hingga pasti nanti Jakarta sebagai ibukotanya akan penuh sesak dengan patung-patung pahlawan baru yang bahkan kita tidak kenal itu siapa. Pahlawan proklamasi, pahlawan reformasi, sampai pahlawan sehari-hari semuanya diakui. Mungkin nanti ada kolom pada KTP yang menjelaskan pahlawan apa pemegangnya.
Buat semua orang pahlawan itu subjektif adanya. Bagi kita memang Pattimura adalah pahlawan yang bentuk pengenangannya layak dipatri di muka uang seribu rupiah, tapi bagi Belanda tentu Pattimura tidak lebih dari pemberontak. Pahlawan kita, pengacau mereka. Cornelis de Houtman sebaliknya, bangsa eropa memuja-mujanya sebagai penemu jalan sutera menuju sentra rempah-rempah dunia, tapi bagi kita bangsa Indonesia dia adalah pembuka pintu neraka.
Lalu siapa pahlawan kita sebenarnya?
Banyak tentu yang menjawab orang tua. Tidak salah memang, merekalah yang banyak berjasa pada kita, mungkin juga suatu saat perlu dibikin patung oleh anak-anaknya karena mereka adalah pahlawan keluarga. Tapi lihat jugalah orang-orang sekitar yang telah menyelamatkan kita. Bukan cuma tukang sampah yang menghindari kita berbau-bau ria di pembuangan, lebih dalam lagi. Orang bodoh yang membuat kita terlihat pintar, orang lemah yang membuat kita terlihat kuat, sampai pejabat yang membuat kita bisa jadi rakyat dan menggugat seolah kita paling benar.
Mereka yang dengan kekuatan tidak supernyalah yang menyelamatkan keseharian kita, pahlawan tanpa kostum dan tanpa perlu diaku orang banyak. Kekuatan mereka lebih dari apa yang dikatakan oleh Oprah sebagai Day to Day Hero, lebih dari pahlawan pengawasan, Ibu Lilis di Malang, atau Nyonya Siami di Surabaya yang dijuluki pahlawan kejujuran.
Merekalah, pahlawan kesiangan, pahlawan tanpa kekuatan yang menyelamatkan kita. Menyulap kita menjadi seolah pahlawan sesungguhnya yang punya aneka kekuatan.
Kamis, 25 Agustus 11 Leave a comment
Lupa
Satu hal yang sering kita tidak harapkan tetapi mau tak mau harus terjadi, atau kadang sebaliknya perlu dibuang tetapi lekat ternngiang-ngiang.
Saya adalah orang yang menolak lupa, sayang seringnya tidak sengaja. Banyak SMS yang rapi pada tempatnya, kalau sempat dan ingin dibaca lagi tinggal dibuka. Banyak senangnya dan tidak sedikit pahitnya, tapi toh tetap saya simpan juga. Buku juga penuh coretan walaupun sekarang jarang saya perhatikan dan mulai berceceran, tapi buku adalah media abadi membungkus kejadian dengan bumbu nostalgia tulisan tangan. Setua-tuanya buku masih bisa dibuka.
Apa yang bisa kita tolak untuk lupa selain kenangan? Pasti pernah waktunya saat ingatan dari masa lalu tiba-tiba terbuka dan mengurung kepala, tahu-tahu pacar zaman sekolah dulu terkelebat, ataukah itu cuma sekadar cerita lucu yang menguap dari padatnya kegiatan di kantor. Artefak kehidupan menurut hemat saya selalu tersimpan dalam otak, tinggal apakah ada di permukaan atau di selipan. Kertas dan segala media rekam, termasuk internet, membantu kita menemukan kembali. Menyuburkan lagi kembang-kembang ingatan atau mendedel lagi bekas luka yang pernah kering.
Apa yang paling ingin kita lupa?
Saya, tentu juga seperti banyak yang lainnya ingin lupa akan susahnya hidup. Pokoknya hidup itu cuma urusan senang-senang, urusan nangis dan marah sebaiknya tidak ada. Sayang dalam kenyataan tidak demikian, saya bisa saja sengaja tidak mau ingat, tapi ingatan kolektif sekitar saya bisa saja memicu. Entah itu ingatan kawan, atau ingatan yang terpercik dari pandangan sekilas terhadap barang. Merekalah yang mengatasi kealpaan dan mencegah amnesia.
Ngomong-ngomong kemana perginya kenangan kalau kita amnesia ya?
Rabu, 24 Agustus 11 Leave a comment
Twitter Wisdom
Pernahkah kamu menulis status sedih nan galau di timeline dan dibalas -reply maupun RT- dengan perasaan atau malah candaan? It’s OK, seenggaknya mereka yang bales itu perhatian, soal candaan mungkin merekanya aja kurang peka dan ya hey ini twitter, siapa yang membalas di sana tidak tahu mimik muka kita.
Oh bukankah kita memang makhluk haus perhatian? Oke kembali ke topik, kadang ataupun sering balesan yang masuk di twitter itu beneran “masuk”, ya karena mungkin emang pemirsa tweet kita emang temen kita atau malah karena follower kita kelewat banyaknya.
Banyak lho saran yang ampuh, yang datang dari jari-jemari pemegang blackberry, yang kadang sarannya itu lebih dari solusi. Misal :
tweet 1 : “pengen punya pacar nih, si anu kayanya boleh juga, tapi aku maluu..”anggap saja si tweet 1 ini adalah seorang biasa dengan follower yang nggak banyak-banyak amat, toh ada juga yang ngasih respons
tweet 2 : “ayodongdongdong 2011 masih pemalu? helloo…Senin, 21 Maret 11 Leave a comment
Iri, tetapi Dari Hati : Kejujuran Pikir Seorang Peranakan
Bermula dari twit dan tulisan di blog mas @blontankpoer yang menyebut-nyebut soal tulisan margareta saya pun terbawa penasaran, belakangan saya malah membeli dua buah bukunya, satu “After Orchard” dan satunya lagi “Excuse-Moi”. Kedua buku ini punya takarannya masing-masing, dua-duanya untung bagus ![]()
Berikut salah satu resensi yang saya bikin untuk buku “Excuse-Moi”, semoga layak baca …
Coba pikirkan, mana yang akan orang tua pilih jika diberi dua opsi buruk ini : Punya anak kecanduan narkoba atau punya anak yang kawin lari dengan pria beda agama, beda suku, beda segalanya? (Durhaka Anonymous, halaman 128)
Dilema yang begitu menohok. Bagaimana jodoh yang berbeda disandingkan dengan madat. Keras memang, namun ini baru sebagian pilihan yang dihidangkan buku ini. Patut digarisbawahi pula bahwa yang menjadi sorotan utama dalam buku ini adalah kaum peranakan. Istilah awamnya, keturunan Cina. Ya, tentang bagaimana mereka menghadapi banyak pilihan sadis dan stereotip tragis dari lingkungan sekitarnya.
Orang Cina. Berarti bukan Indonesia, continue reading »
Sabtu, 19 Maret 11 Leave a comment